Sejarah Perjalanan hidup Jokowi atau Joko Widodo

Sejarah Perjalanan hidup Jokowi atau Joko Widodo

Sejarah Perjalanan hidup Jokowi atau Joko Widodo
Saya terlahir dengan nama asli Joko Widodo. Tetapi ketika masih aktif menangani bisnis mebel dan punya buyer asal Prancis, Michl Romaknan, ia mengaku bingung. Pasalnya Michl yang membeli mebel dari Jepara, Semarang, dan Surabaya selalu bertemu orang bernama Joko. Eh, begitu di Solo, bertemu saya yang juga disapa Joko. Untuk membedakan dengan Joko-Joko yang lain, ia menyapa saya dengan nama Jokowi.
Saya tidak keberatan dengan sapaan itu, malah senang. Seperti ada personal brand tersendiri. Apalagi nama itu terdengar seperti nama petenis dunia, Djokovic. Ha ha ha…Sejak 1991 nama Jokowi saya pakai. Nama yang tertera di kartu nama saya, ya, Jokowi. Bahkan sampai menjadi walikota pun nama saya tetap Jokowi. Penggantian nama itu tanpa membuat tumpengan, lho. Ha ha ha…
Sebenarnya menjadi walikota bukanlah cita-cita masa kecil saya. Waktu kecil saya justru bercita-cita jadi tukang kayu. Bagaimana tidak, saya memang tumbuh di lingkungan tukang kayu. Bapak saya, Noto Mihardjo, seorang penjual kayu dan bambu di bantaran kali Karanganyar, Solo. Jangan membayangkan Bapak saya itu pengusaha kayu besar, ya. Kecil saja usahanya karena cuma penjual kayu gergajian. Jadi bisa dibayangkan tho , saya bukan berasal dari keluarga kaya. Saya berasal dari keluarga kelas bawah, bahkan bawah sekali.
Tumbuh di Bantaran Kali
Sebagai keluarga penjual kayu, saya tumbuh menjadi anak yang terbiasa hidup sulit. Kadang sulit makan, mbayar sekolah juga kerap kesulitan biaya. Sayang, rumah masa kecil saya kini sudah digusur, jadi tidak bisa dilihat untuk mengenang seperti apa kehidupan saya dulu.
Dan seperti anak kecil pada umumnya, saya juga suka sekali main. Tetapi saya tidak tergolong anak yang nakal. Nglidhig (bandel, Red. ) iya, tapi nakal tidak. Dulu, saya suka mandi di sungai di belakang rumah. Cari telur bebek di dekat-dekat sungai. Kalau enggak dapat, ya, cari terus sampai dapat. Memancing ikan, main layang-layang, main sepak bola, ya, di sepanjang sungai. Dulu sungainya masih lebar, beda dengan sekarang yang sudah banyak dibangun rumah.
Oh ya, saya lahir di Solo 21 Juni 1961 sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Tiga adik saya perempuan. Karena saya paling besar, saya sering membantu Ibu, Sujiatmi, mengasuh adik-adik. Kadang mengantar mereka sekolah. Kalau mereka ada masalah dengan pekerjaan rumah, saya juga membantu mereka. Bahkan ketika adik-adik beranjak besar, saat ada masalah dengan pacarnya, saya turut membantu memecahkan masalahnya.
Yang pantas saya kenang dan banggakan adalah, nilai sekolah saya selalu bagus. Kalau enggak juara satu, ya, juara umum lah. Padahal belajar saja saya tidak pernah, lho. Masa SMP hingga SMA saya lalui tanpa hal yang istimewa. Di luar jam sekolah saya membantu orangtua, misalnya menagih pembayaran kepada pelanggan yang membeli kayu atau menaikkan kayu yang sudah dibeli orang ke atas gerobak atau becak.
Selepas SMA saya meneruskan kuliah ke Jurusan Teknologi Kayu, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada dan lulus tahun 1985. Saya bisa kuliah atas kebaikan keluarga besar Bapak dan Ibu yang mampu membiayai kuliah. Bahkan Kakek juga ikut membantu dengan menjual sapinya. Intinya, banyak orang membantu saya. Selama kuliah, saya kos di Yogyakarta. Seminggu atau sebulan sekali pulang ke Solo naik bus. Rumah kosnya cari yang murah, karena itu sempat pindah sampai lima kali.
Nah, sejak tingkat satu saya sudah mulai pacaran dengan gadis cantik nan sederhana yang bernama Iriana. Dia teman adik saya yang sering bermain ke rumah, jadi kami sering bertemu. Sejak kenal Iriana, saya tak pernah pindah ke lain hati sampai akhirnya kami menikah pada 24 Desember 1986.
Setelah selesai kuliah pada 1985, saya lalu bekerja di sebuah BUMN di Aceh selama 1,5 tahun. Kemudian saya menikahi Iriana. Kini kami dikaruniai tiga buah hati, Gibran Rakabumi (25), Kahiyang Ayu (21), dan Kaesang Pangarep (17).
Jadi Eksportir
Saya memutuskan berhenti kerja dari BUMN dan pulang ke Solo untuk merintis bisnis mebel dengan modal minus. Artinya, saya harus pinjam uang ke bank. Agunannya, sertifikat tanah milik orangtua. Risiko yang harus saya tanggung, jika tidak bisa mengembalikan uang berarti tanah melayang. Tetapi sejak dulu saya orangnya optimis, karena untuk memulai satu pekerjaan modalnya hanya itu. Selain optimis, saya juga menyertainya dengan kerja keras. Sembilan tahun lamanya saya kerja dari pagi hingga pagi lagi karena merasa tak punya apa-apa.
Saya rasa, sebagian besar orang Solo tahu tempat usaha saya dulu seperti apa. Dimulai dari sewa tempat yang terbuat dari gedheg (anyaman bambu, Red.) kecil. Waktu itu saya baru mampu mempekerjakan tiga tenaga, sehingga mulai dari masah kayu hingga membuat konstruksi dan nyemprot mebel, saya lakukan sendiri. Sampai kini pun, misalnya, saya disuruh membuat mebel dengan mesin yang amat sederhana hingga mesin modern, ya, masih bisa. Urusan marketing pun saya lakukan sendiri.
Saya kerja melebihi jam kerja orang lain. Kalau enggak percaya, tanya saja istri saya. Kadang saya sampai tidur di pabrik untuk menyelesaikan pekerjaan. Ini saya lakukan selama sembilan tahun! Buat saya, kesempatannya hanya itu. Kalau tidak saya pergunakan dengan baik, habislah saya.
Oh, ya, saat itu saya baru punya satu anak. Karena sering tidur di pabrik, saya jadi jarang membimbing anak belajar atau membantu mengerjakan PR-nya. Tetapi antar-jemput anak ke sekolah masih bisa saya lakukan. Selama itu pula istri menemani saya jatuh bangun merintis bisnis. Dulu, rambutnya sering kotor terkena serbuk gergaji kayu karena dia juga sering menemani saya hingga malam hari di pabrik.
Mebel paling awal yang saya buat adalah bedroom set . Dulu jualannya hanya di Solo saja. Setelah tiga tahun berjalan, saya sudah mulai bisa mengekspor. Perjuangan saya menjadi eksportir dimulai dari menjadi anak angkat Perum Gas Negara. Saya mengenal Perum Gas Negara melalui Desperindag. Saat itu saya diikutkan dalam kualifikasi sehingga bisa mendapatkan “bapak angkat”. Begitulah Tuhan memberi jalan.
Awalnya oleh Perum Gas Negara saya dipinjami deposito untuk modal pinjam uang ke bank. Semula saya hanya akan dipinjami Rp 50 juta. Saya bilang, “Maaf, saya ingin bikin ‘nasi’. Kalau cuma dipinjami Rp 50 juta, ‘bubur’ saja tidak akan jadi. Saya tidak mau.” Setelah itu saya tunjukkan rencana kerja saya kepada mereka. Akhirnya mereka percaya dan mau meminjami lebih.
Saat itu tahun 1996, saya berhasil meminjam uang yang kalau sekarang nilainya sekitar Rp 600 juta. Saya diberi target, setelah dua tahun saya harus bisa ekspor. Ternyata baru enam bulan saya sudah mampu mengekspor. Utang pun mampu saya lunasi dalam waktu tiga tahun. Malah tahun berikutnya saya dapat pinjaman lebih besar lagi.
Pertama kali menjadi eksportir, tiga bulan saya baru kirim satu kontainer, ha ha ha… Setelah rajin ikut pameran, dalam satu bulan sudah ada permintaan 18 kontainer. Awalnya saya ikut pameran di Jakarta, lalu ke Singapura dan akhirnya ke Eropa, Amerika Eropa Timur, dan Timur Tengah. Rasanya semua benua sudah saya datangi. Pokoknya kalau ada pasar baru, sudah dipastikan saya bisa masuk. Hasilnya, hampir semua negara jadi tujuan ekspor usaha mebel saya.
Setelah sampai di skala itu pun saya masih tetap terjun langsung ke lapangan. Saya punya prinsip, selalu menerima order yang masuk. Kalau tak mampu saya tangani, akan saya ‘lempar’ ke teman-teman, tapi tetap saya yang pegang kontrol. Keputusan-keputusan seperti ini memang harus dihitung matang dengan detail plus-minus risikonya. Tak bisa diputuskan di belakang meja, karena bisa keliru.
Nah, sejak saya jadi walikota, bisnis mebel kemudian ditangani adik saya, sebab ketiga anak saya belum ada yang tertarik ke dunia mebel. Si sulung Gibran yang saya sekolahkan di bidang marketing di Singapura dan Australia justru tertarik ke bisnis katering. Walau sedikit kecewa, tapi saya bangga dia berhasi dengan usaha pilihannya.
Calon Walikota
Di kalangan tukang kayu, nama saya memang dikenal. Tetapi ketika mencalonkan diri sebagai calon walikota, tak ada yang mengenal siapa Jokowi. Jujur, keinginan mencalonkan diri ini tidak datang dari diri pribadi, tapi didorong-dorong teman-teman di Asmindo (Jokowi adalah Ketua Asmindo periode 2002-2005, yang anggotanya para pebisnis kayu dan mebel, Red. ). Merekalah yang meminta saya terjun ke dunia politik. Jadi ketika kemudian benar-benar jadi walikota, bagi saya itu ‘kecelakaan’ karena tidak ada persiapan sama sekali, ha ha ha…
Kendati demikian, sebelum akhirnya nyalon saya membuat kalkulasi yang matang. Peta lapangannya saya hitung dan kuasai. Untuk apa nyalon walikota kalau untuk kalah? Saya akhirnya bersedia maju, ya, untuk menang. Hasil kalkulasi saya, kesempatan menang ketika itu 50 persen. Semisal bila hasilnya 30 persen, saya tidak akan mau maju.
Saya merasa optimis karena saat itu calon lain banyak-banyakan pasang gambar billboard , sementara saya memilih door to door . Saya dan Pak Rudy (FX Hadi Rudyatmo, Wakil Walikota Solo sekarang, Red.) mendatangi sendiri warga dari RT ke RT. Hampir setiap hari seperti itu. Yang kira-kira termasuk ‘pasar’ saya, saya masuki. Saya sodorkan visi-misi saya menjadi walikota. Ketika bertemu warga, saya ajak mereka bicara. Dari sini saya tahu apakah orang itu mendukung saya atau tidak.
Kepada warga pula, ketika itu saya menawarkan tiga hal. Yakni soal perbaikan kesehatan, pendidikan, dan penataan kota. Saya memang merasa penataan Kota Solo semrawut, tidak rapi dan tertata. Kawasan kumuh ada di semua titik. Pedagang kaki lima bertebaran di mana-mana sehingga pasar tradisional melimpah ke jalan. Becek, bau dan kotor.
Karier Jokowi sebagai pejabat publik semakin bersinar di masa jabatannya yang kedua (2010-2015). Konsekuensinya, ia semakin sibuk sehingga tak bisa lagi ‘menghilang’ dari Solo selama akhir pekan, sebagaimana dulu rutin ia lakukan. Beruntung, Jokowi punya cara jitu untuk refreshing , yakni nonton konser musik cadas kesukaannya. Ia juga masih berharap bisa ‘ngilang’ setelah tidak menjabat walikota. Mungkinkah itu bisa dilakukan, mengingat banyak pihak menginginkan ia menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta?
Izinkan saya mengulang sedikit kisah masa remaja saya. Seperti remaja lainnya, saya juga memiliki hobi. Kebetulan hobi saya sejak duduk di SMAN 6 Solo adalah mendengarkan musik rock. Grup-grup musik rock yang saya suka misalnya Sepultura, Led Zeplin, Deep Purple, Metallica, Palm Desert, Linkink Park, dan Lamb of God. Banyak lah. Mau nyebut 100 grup rock juga bisa, ha ha ha. Intinya grup-grup rock lama, saya suka.
Hobi mendengarkan dan nonton pertunjukan musik itu terus berlanjut hingga saya duduk di Fakultas Kehutanan, bahkan sampai sekarang. Bedanya, bila zaman SMA atau kuliah saya hanya bisa memburu nonton konser musik rock di Jogja dan Solo, sekarang saya bisa mengejar nonton sampai ke Jakarta atau Singapura. Hitung-hitung refreshing lah. Masak ngurusi pekerjaan terus, kan, pusing. Kalau bisa pun, saya ingin mengundang grup musik rock ke Solo. Saya ingin nonton pertunjukan mereka bersama masyarakat Solo.
Begitu kesengsemnya pada musik rock, dulu saya juga pernah ikut-ikutan memanjangkan rambut hingga sepunggung. Biar keren seperti para pemusik idola saya. Foto masa muda saya yang berambut gondrong juga masih saya simpan. Tapi maaf, ya, saya tidak mau mempublikasikannya kendati sudah banyak media yang meminta. Malu, ah! Sekarang kalau ingat masa-masa gondrong itu, saya suka jadi malu sendiri. Anak sulung saya sempat ikut-ikutan gondrong seperti saya di masa muda. Anehnya, saat melihat dia gondrong, saya kok, jadi jijik, ya, ha ha ha.
Bila ada yang bertanya kenapa saya suka musik rock, ini jawabannya. Musik rock atau musik metal itu memberi semangat. Yang namanya pemimpin, ya, harus seperti itu. Harus berani mendobrak, memberi semangat kepada rakyatnya. Jangan sampai pemimpin lagunya mellow . Bukan berarti saya tidak suka musik klenengan dan keroncong, lho. Saya juga suka. Nyatanya saya sekarang terpilih jadi Pembina Hamkri (Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia) Solo. Tapi koleksi musik saya yang terbanyak, ya, musik rock.
Nah, lalu bagaimana gaya pacaran saya dengan ibunya anak-anak? Wah, ya, tidak bisa pacaran ke mana-mana. Paling banter makan bakso yang murah-murah saja. Hidup kami dulu, kan, serba sederhana.
Diplomasi Makan Siang
Di awal masa jabatan saya yang pertama, masyarakat Solo belum percaya kepada saya. Maklum, sosok saya baru saja mereka kenal. Karena itu saya seringkali saya mengumpulkan masyarakat untuk berdialog guna mendengarkan aspirasi mereka. Untuk dialog semacam itu, saya lebih suka datang sendiri dan tidak mewakilkan staf. Kalau diwakilkan lalu, misalnya, staf saya bermental ABS (asal bapak senang), kan, repot. Bisa keliru ambil keputusan.
Awalnya, dialog selalu berjalan alot. Isinya orang marah-marah dan mencaci. Kalau dimasukkan hati, ya, sakit dan membuat pusing. Jadi saya dengarkan dan catat saja apa kemauan mereka. Saya juga punya cara tersendiri untuk berdialog dan menjalin kepercayaan dengan para pedagang kaki lima (PKL) yang akan saya relokasi ke tempat yang lebih baik dan nguwongake (memanusiakan, Red. ) mereka. Itu semua demi melaksanakan janji saya dalam melakukan penataan kota.
Awalnya, mereka saya undang makan siang di rumah dinas saya. Tidak mudah meyakinkan para PKL tentang program penataan kota. Hari ini diajak makan siang, besoknya malah timbul kecurigaan. Spanduk berisi caci-maki bermunculan di depan rumah. Ada yang bertuliskan “Pertahankan sampai titik darah penghabisan!” dan disertai bambu runcing. Saya tidak ambil hati. Malahan saya ajak mereka makan siang lagi.
Saya mengerti kekhawatiran mereka yang di masa lalu sering dibohongi pemimpinnya. Mereka takut setelah digusur, tempat lama akan saya jadikan mal. Diplomasi makan siang itu terus saya lakukan hingga jamuan makan yang ke-54, saya melihat sudah saatnya mengatakan bahwa mereka, ratusan pedagang klithikan di Banjarsari itu, akan saya relokasi ke tempat yang baru. Ternyata tidak ada yang membantah.
Kenapa saya memakai ‘diplomasi’ makan siang? Setiap kepala daerah di mana pun, kan, punya anggaran untuk menjamu tamu di APBD-nya. Nah, menurut saya yang namanya tamu kepala daerah itu bukan cuma pejabat tinggi. Pedagang kaki lima atau pedagang pasar juga tamu saya, jadi mereka berhak saya jamu makan siang. Kini apabila saya hendak memindahkan pedagang kaki lima atau pedagang pasar, cukup 3-4 kali makan siang sambil berdialog, semuanya beres.
Saya memang tidak mau ada penggusuran dengan tindak kekerasan atau pemukulan seperti di kota lain. Karena itulah, waktu itu saya justru menempatkan kepala satpol perempuan. Kenapa tidak? Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan juga bisa jadi komandannya satpol. Meskipun posisi itu baru saja saya ganti laki-laki, he he he.
Terhitung ada 23 lokasi PKL yang saya pindahkan ke tempat yang lebih baik. Jujur, saya tidak bisa memenuhi semua keinginan mereka. Misalnya mereka minta pelebaran jalan 9 meter, saya hanya bisa memberi 6 meter. Yang penting ada komunikasi.
Agar PKL tidak kehilangan pembeli di tempat yang baru, saya memakai cara unik. Di hari pindahan, saya siapkan 54 truk khusus. Mereka dikirab dengan baju keraton ke pasar yang baru. Ini sebagai cara promosi agar orang tahu ada pasar baru yang buka. Yang terpenting, saya ingin ngowongake mereka. Mengangkat mereka ke level yang lebih baik dengan status yang lebih legal. Ini, kan, dari informal menjadi formal, tho ? Kini sudah 17 pasar tradisional yang dibangun kembali.
Masyarakat itu hanya perlu diajak berkomunikasi. Menurut saya, pemimpin daerah harus mau nungging . Mendengarkan suara akar rumput, mendengarkan penderitaan masyarakatnya. Keluhan masyarakat itu harus dimengerti agar mereka tahu posisi kita ada di mana. Saya pun sadar betul, membangun kepercayaan memang butuh proses. Ini dilihat antara kata dan perbuatan, jangan cuma ngomong doang. Selama tujuh tahun memimpin Solo, bisa dihitung dengan jari berapa kali saya pidato. Saya diberi posisi sebagai walikota untuk bekerja, bukan pidato.
Walikota Teladan
(Berkat gaya kepemimpinannya yang aspiratif, Jokowi menang telak atas rivalnya Eddy Wirabhumi-Supradi Kertamenawi pada Pemilukada 2010. Ia pun kembali menjabat sebagai Walikota Solo periode 2010-2015.
Sepanjang perbincangan dengan NOVA, Jokowi memperlihatkan slide suasana Kota Solo sebelum dan sesudah ditata olehnya. Bagaimana dulu pedagang pasar tradisional tumpah hingga ke jalan raya. Di bawah komandonya, titik kota yang dulu kumuh itu berhasil dirapikan dan dibangun pasar yang bersih dan tertata. Pedagang harus berjualan di dalam pasar tanpa dipungut bayaran, kecuali retribusi Rp 2.500 per hari.
Jokowi juga memperlihatkan kondisi ruangan pelayanan KTP dan ruang tamu di kantornya yang semula “berantakan”, padahal ia harus mendatangkan investor ke kotanya. Ruang tamu untuk para investor dan pelayanan KTP itu lantas ia “sulap” menjadi serupa lobby sebuah bank, ada layar sentuh yang berisi prosedur dan tata-cara berinvestasi. PNS yang melayani para investor ia beri seragam jas biru, bukan busana PNS warna cokelat kakhi. Pelayanan KTP pun dipermudah dan dipercepat.
Selama lima tahun kepemimpinannya strong>Jokowi memenuhi janjinya, bukan saja menata kota tetapi juga memutus mata rantai kemiskinan dengan meluncurkan dana untuk biaya pendidikan dan kesehatan. Termasuk program perbaikan gizi anak serta menekan angka kematian ibu dan anak pasca persalinan. Inovasi itulah yang akhirnya membuahkan penghargaan sebagai Walikota Teladan dari Mendagri pada April 2011)
Saya sadar, anak-anak adalah aset masa depan bangsa. Karena itu saya memberikan perhatian khusus kepada anak-anak dari keluarga tidak mampu agar bisa terus sekolah. Menurut saya, satu-satunya yang bisa memutus tali kemiskinan adalah pendidikan. Karena itu saya kemudian menawarkan solusi membuat kartu Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) dari jenjang SD hingga SMA.
Untuk anak yang memperoleh kartu Platinum, ia akan memperoleh seragam, buku, beasiswa dan sepatu gratis. Sementara pemegang kartu Gold bisa membayar sekolah setengahnya saja. Sementara ini memang hanya berlaku untuk sekolah tertentu karena anggarannya belum cukup, masih diotak-atik. Ada juga pemegang kartu Silver untuk siswa dari keluarga mampu yang bersekolah di Kota Solo pada jenjang SD/MI Negeri serta SMP/MTs Negeri dan jenjang SDLB, SMPLB Negeri dan SMALB Swasta.
Saya juga mengeluarkan kartu Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS). Kartu ini bisa dipakai untuk berobat gratis di 12 rumah sakit dan 17 Puskesmas, termasuk untuk terapi kanker seperti kemoterapi dan cuci darah. Jenisnya sama, Silver dan Gold. Silver untuk yang miskin “ragu-ragu” atau tidak jelas kemiskinannya, Gold untuk masyarakat yang sudah jelas miskin. Kartu PKMS sudah sekitar 4 tahun lalu diluncurkan, sementara kartu BPMKS baru dua tahun ini.
Dua jenis kartu ini hanya ada di Solo. Biayanya saya ambilkan dari APBD. Asal tahu saja, ya, dulu untuk jaminan kesehatan anggarannya hanya Rp 1,4 M. Setelah ada kartu, saya siapkan Rp 19 M. Dulu untuk beasiswa pendidikan hanya ada dana Rp 3,4 M. Sekarang Rp 23 M. Insya Allah cukup.
Saya juga menaruh perhatian khusus pada masalah kesehatan ibu dan anak. Dulu anggaran untuk perbaikan gizi anak hanya Rp 41 juta, sekarang Rp 1,4 M. Naiknya berapa kali lipat, coba? Saya tahu anak itu masa depan kita, jadi harus digarap sejak dini, salah satunya dengan program makanan tambahan di sekolah. Semua sistem ini hanya ribet di awalnya. Setelah ketemu metodenya dan berjalan, mudah saja.
Itulah sedikit banyak tentang perjalanan hidup joko widodo serta profile dan biodata Jokowi, semoga dapat menambah pengetahuan para pembaca semua khususnya tentang Jokowi.
Sejarah dan Dasar Hukum Sholat Jumat

Sejarah dan Dasar Hukum Sholat Jumat

Seperti yang sama-sama kita ketahui bahwa Sholat Jumat merupakan sebuah perintah Sholat dari Allah SWT bagi mu'min laki-laki yang dikerjakan pada setiap hari Jumat. Bagi umat Islam Jum'at adalah hari yang sangat istimewa, berbeda dengan hari lainnya dalam seminggu. Banyak sekali muncul pertanyaan dari Sobat kepada admin dari mana sebenarnya sejarah awal adanya Sholat Jumat ini, apa dasar dan hukum mengerjakan Sholat Jumat ? Untuk itu pada postingan kali ini Kumpulan Sejarah akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dari beberapa sumber yang telah admin rangkum dalam artikel ini.

Sejarah Sholat Jumat

Menurut sebagian riwayat yang ada, kata jumat diambil dari kata jama'ah yang memiliaki arti berkumpul. Yaitu, hari dimana dipertemukannya

Nabi Adam dan Siti Hawa di Jabal Rahmah. Kata jumat juga bisa diartikan sebagai waktu berkumpulnya umat Islam untuk melaksanakan kebaikan sehingga tak aneh bila kemudian Allah memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan Sholat Jumat untuk merayakan hari istimewa tersebut.

Dari sumber yang dikutip dari Harian Republika menyebutkan bahwa Perintah Sholat Jumat turun seiring dengan turunnya perintah Sholat lima waktu. Saat itu, Nabi Muhammad SAW masih berada di Makkah. Akibatnya Rasulullah tidak langsung melaksanakan perintah tersebut karena kondisi yang tidak memungkinkan di kota itu. Sholat jumat perdana baru dilaksanakan saat Rasulullah hijrah ke Madinah. Ketika itu, Senin 12 Rabiul Awal 1 Hijriyyah atau 23 September 622 M. Rasulullah dan Abu Bakar As-shidiq menapakkan kaki memasuki desa Quba yang tak jauh dari Madinah. Kedatangan mereka telah ditunggu oleh warga di seluruh kampung. Semua orang berhamburan keluar dari rumah masing-masing ketika mengetahui Rasulullah dan Abu bakar As-shidiq menuju rumah Khubaib bin Yasaf atau Kahrijah bin Zaid di Sunh, sebuah desa yang tak jauh pula dari Madinah.

Satu atau dua hari kemudian, Ali bin Abi Thalib tiba dari Makkah dan menetap di rumah yang sama dengan Rasulullah. Rasulullah berdiam di desa Quba selama empat hari, sejak Senin hingga Kamis. Lalu, atas saran Ammar bin Yasir, beliau mendirikan Masjid Quba. Inilah masjid pertama dalam sejarah Islam. Rasulullah sendiri yang meletakkan batu pertama di kiblat masjid tersebut dan kemudian diikuti oleh Abu Bakar As-shidiq. Lalu diselesaikan beramai-ramai oleh para sahabat lainnya.

Sholat Jumat Pertama
Pada jumat pagi, 16 Rabiul Awal. Rasulullah meninggalkan Quba. Rasulullah dan para sahabat melanjutkan perjalanan ke Madinah. Namun, pada siang hari, mereka berhenti di Lembah Ranuna. diperkampungan Bani Salim bin 'Auf dari suku Khazraj yang masih berada di sekitar Quba. Mereka kemudian melaksanakan Sholat Jumat untuk pertama kalinya di tempat itu. Sebelum melaksanakan Sholat Jumat, Rasulullah menyampaikan khutbah di depan ratusan jamaah.

Meski 16 Rabiul Awal dianggap sebagai hari dilaksanakannya Sholat perdana namun sejumlah riwayat mengungkapkan bahwa sebelum hari itu, Sholat jumat pernah dilaksanakan oleh umat Islam. Namun, Sholat Jumat itu dipinpin oleh Rasulullah, melainkan As'ad bin Zurarah. Fakta tersebut dikisahkan dalam hadist yang diungkapkan oleh Qutaibah bin Sa'id. Qutaibah menyatakan, setiap kali Ka'ab bin Malik mendengar azan hari jumat, dia akan memohonkan rahmat untuk As'ad bin Zurarah.

"Lantas, aku bertanya kepadanya. Mengapa Anda memohonkan rahmat untuk As'ad bin Zurarah setiap kali mendengar azan jumat ?" Ka'ab pun menjawab, "As'ad adalah orang yang pertama kali melaksanakan Sholat Jumat di tengah-tengah kami di Hazmin-nabit, yang terletak di Bani Bayadhah di Baqi', yaitu Naqi'ul Khadhamat,"

Qutaibah bertanya lagi,"Berpakah jumlah kalian ketika itu?" Ka'ab menjawab, "Empat puluh orang."
As'ad dikisahkan mengetahui bahwa perintah untuk melaksanakan Sholat Jumat sampai kepada Rasulullah. Kabar tersebut tersiar ke Madinah, tempat dia berada. Hal inilah yang menjadi dasar baginya untuk melaksanakan Sholat Jumat. Sementara, Rasulullah tidak mungkin melaksanakan Sholat Jumat berjamaah di tengah kondisi Makkah yang tidak kondusif bagi dirinya dan kaum muslim lainnya. Karena itu, Rasulullah baru bisa melaksanakan Sholat jumat ketika beliau hijrah di Madinah.

Setiap hari jumat, Muslim di desa tempat tinggal As'ad akan menuju rumahnya dan berkumpul disana. Mereka lalu menyelenggarakan Sholat dua rakaat. Setelah itu, As'ad memotong kambing untuk di makan bersama.

Dasar Hukum Sholat Jumat
Hukum Sholat Jum’at adalah wajib dengan dasar Al Qur’an, Sunnah dan Ijma’. Adapun dalil dari Al Qur’an adalah firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan Sholat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." [Al Jum’ah:9]

Dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk menunaikannya, padahal perintah -dalam istilah ushul fiqh- menunjukkan kewajiban. Demikian juga larangan sibuk berjual beli setelah ada panggilan Sholat, menunjukkan kewajibannya; sebab seandainya bukan karena wajib, tentu hal itu tidak dilarang.

Sedangkan dalil dari Sunnah, ialah sabda Rasulullah:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ

"Hendaklah satu kaum berhenti dari meninggalkan Sholat Jum’at, atau kalau tidak, maka Allah akan mencap hati-hati mereka, kemudian menjadikannya termasuk orang yang lalai."

Hal ini dikuatkan lagi dengan kesepakatan (Ijma’) kaum muslimin atas kewajibannya, sebagaimana hal itu dinukil para ulama, diantaranya: Ibnu Al Mundzir, Ibnu Qudamahdan Ibnu Taimiyah.

Siapakah Yang Diwajibkan Sholat Jumat
Syaikh Al Albani berkata,”Sholat Jum’at wajib atas setiap mukallaf, wajib atas setiap orang yang baligh, berdasarkan dalil-dalil tegas yang menunjukkan Sholat Jum’at wajib atas setiap mukallaf dan dengan ancaman keras bagi meninggalkannya.”

Sholat Jum’at diwajibkan kepada setiap muslim, kecuali yang memiliki udzur syar’i, seperti: budak belian, wanita, anak-anak, orang sakit dan musafir, berdasarkan hadits Thariq bin Syihab dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda.

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ

"Sholat Jum’at wajib bagi setiap muslim dalam berjama’ah, kecuali empat: hamba sahaya, wanita, anak-anak atau orang sakit" .

Sedangkan tentang hukum musafir, para ulama masih berselisih sebagai orang yang tidak diwajibkan Sholat Jum’at, dalam dua pendapat, yaitu:

Pertama : Musafir tidak diwajibkan Sholat Jum’at. Demikian ini pendapat jumhur Ulama, dengan dasar bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam seluruh safarnya tidak pernah melakukan Sholat jum’at, padahal bersamanya sejumlah sahabat Beliau. Hal ini dikuatkan dengan kisah haji wada’, sebagaimana disampaikan oleh Jabir bin Abdillah dalam hadits yang panjang.

فَأَتَى بَطْنَ الْوَادِي فَخَطَبَ النَّاسَ ......ثُمَّ أَذَّنَ بِلا َلٌ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

"Lalu beliau mendatangi Wadi dan berkhutbah…Kemudian Bilal beradzan, kemudian iqamah dan Sholat Dhuhur, kemudian iqamah dan Sholat Ashar, dan tidak Sholat sunnah diantara keduanya.

Kedua. Wajib melakukan Sholat Jum’at. Demikian ini pendapat madzhab Dzahiriyah, Az Zuhri dan An Nakha’i. Mereka berdalil dengan keumuman ayat dan hadits yang mewajibkan Sholat Jum’at dan menyatakan, tidak ada satupun dalil shahih yang mengkhususkannya hanya untuk muqim.

Dari kedua pendapat tersebut, maka yang rajih adalah pendapat pertama, dikarenakan kekuatan dalil yang ada. Pendapat inilah yang dirajihkan Ibnu Taimiyah, sehingga setelah menyampaikan perselisihan para ulama tentang kewajiban Sholat Jum’at dan ‘Id bagi musafir, ia berkata,”Yang jelas benar adalah pendapat pertama. Bahwa hal tersebut tidak disyari’atkan bagi musafir, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bepergian dalam banyak safar, telah berumrah tiga kali selain umrah ketika hajinya dan berhaji haji wada’ bersama ribuan orang, serta telah berperang lebih dari dua puluh peperangan, namun belum ada seorangpun yang menukilkan bahwa Beliau melakukan Sholat Jum’at, dan tidak pula Sholat ‘Id dalam safar tersebut; bahkan Beliau Sholat dua raka’at saja dalam seluruh perjalanan (safar)nya.” Demikian juga, pendapat ini dirajihkan Ibnu Qudamah dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.

Demikian juga orang yang memiliki udzur yang dibenarkan syar’i, termasuk orang yang tidak diwajibkan menghadiri Sholat Jum’at.

Orang yang mendapat udzur, tidak wajib Sholat Jum’at, tetapi wajib menunaikan Sholat Dhuhur, bila termasuk mukallaf. Karena asal perintah hari Jum’at adalah Sholat Dhuhur, kemudian disyari’atkan Sholat Jum’at kepada setiap muslim yang mukallaf dan tidak memiliki udzur, sehingga mereka yang tidak diwajibkan Sholat Jum’at masih memiliki kewajiban Sholat Dhuhur.

Waktu Sholat Jumat
Waktu Sholat Jum’at dimulai dari tergelincir matahari sampai akhir waktu Sholat Dhuhur. Inilah waktu yang disepakati para ulama, sedangkan bila dilakukan sebelum tergelincir matahari, maka para ulama berselisih dalam dua pendapat.

Pertama : Tidak sah. Demikian pendapat jumhur Ulama dengan argumen sebagai berikut:

- Hadits Anas bin Malik, ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِينَ تَمِيلُ الشَّمْسُ

" Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam Sholat Jum’at ketika matahari condong (tergelincir)."

- Hadits Samahin Al Aqwa’, ia berkata:

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ

"Kami Sholat Jum’at bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam jika tergelincir matahari, kemudian kami pulang mencari bayangan (untuk berlindung dari panas)."

Inilah yang dikenal dari para salaf, sebagaimana dinyatakan Imam Asy Syafi’i : “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , Abu Bakar, Umar, Utsman dan para imam setelah mereka, Sholat setiap Jum’at setelah tergelincir matahari”.

Kedua : Sah, Sholat Jum’at sebelum tergelincir matahari. Demikian pendapat Imam Ahmad dan Ishaq, dengan argumen sebagai berikut:

- Hadits saamah in Al Aqwa’, ia berkata:

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ

"Kami Sholat Jum’at bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam jika tergelincir matahari, kemudian kami pulang mencari bayangan (untuk berlindung dari panas)."

- Hadits Sahl bin Sa’ad, ia berkata:

مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ

"Kami tidak tidur dan makan siang, kecuali setelah Jum’at."

Dan dalam riwayat Muslim terdapat tambahan lafadz : فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Pendapat ini menyatakan, bahwa makan dan tidur siang dalam adat bangsa Arab dahulu, dilakukan sebelum tergelincir matahari, sebagaimana dinyatakan Ibnu Qutaibah. Demikian juga Rasulullah berkhutbah dua khutbah, kemudian diriwayatkan membaca surat Qaf, atau dalam riwayat lain surat Al Furqan, atau dalam riwayat lain surat Al Jumu’ah dan Al Munafiqun. Seandainya Beliau hanya Sholat Jum’at setelah tergelincir matahari, maka ketika selesai, orang akan mendapatkan bayangan benda untuk bernaung dari panas matahari dan telah keluar dari waktu makan dan tidur siang.

- Hadits Jabir bin Abdillah ketika ia ditanya:

مَتَى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ قَالَ كَانَ يُصَلِّي ثُمَّ نَذْهَبُ إِلَى جِمَالِنَا فَنُرِيحُهَا حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ

"Kapan Rasulullah Sholat Jum’at, ia menjawab,”Beliau Sholat Jum’at, kemudian kami kembali ke onta-onta kami, lalu menungganginya ketika matahari tergelincir.

Syaikh Al Albani berkata,”Ini jelas menunjukkan, bahwa Sholat Jum’at dilakukan sebelum tergelincir matahari.”

Demikianlah secara singkat uraian pendapat para ulama, dan yang rajih adalah pendapat kedua, yaitu waktu Sholat Jum’at adalah waktu Dhuhur, dan sah bila dilakukan sebelum tergelincir matahari, sebagaimana dirajihkan Imam Asy Syaukani dan Syaikh Al Albani.

Nah, demikianlah penjelasan mengenai Sejarah dan Dasar Hukum Sholat Jumat, mudah-mudahan dapat menambah bekal pengetahuan kita tentang Islam dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Referensi :
http://www.darussalaf.or.id/fiqih/hukum-Sholat-jumat-dan-persyaratannya/
http://almanhaj.or.id/content/2616/slash/0/jumat-hukum-dan-waktu-Sholat-jumat-siapakah-yang-diwajibkan-Sholat-jumat/
Tradisi Lompat Batu di Pulau Nias Indonesia

Tradisi Lompat Batu di Pulau Nias Indonesia

Tradisi Lompat Batu di Pulau Nias Indonesia- Sobat, khasanah adat budaya Indonesia memang terus saja menyajikan keunikan dan keberagaman yang akan memperkaya wawasan kita. Nah pada artikel kali ini kami akan menyajikan tentang Tradisi Lompat Batu di Pulau Nias Indonesia. Tentunya Sobat bangga bukan, ketika bercerita tentang lompat batu yang sudah terkenal itu, Sobat lebih tahu dinading teman yang lain. Tapi pengetahuan kamu akan lebih bermanfaat lagi jika diajarkan kepada orang lain. Lets check.
Tradisi Lompat Batu di Pulau Nias memang sudah terkenal sebagai salah satu warisan budaya bangsa. Batu yang dilompati tingginya sekitar 2 meter dengan lebar 90 cm dan panjangnya 60 cm. Tradisi lompat batu ini juga menjadi simbol keberanian dan kedewasaan mereka sebagai keturunan pejuang Nias. Puncak pada batu tersebut tidak boleh tersentuh dan harus mendarat dengan sempurna. Karena jika tersentuh, maka akibatnya bisa cidera otot dan bahkan bisa menderita patah tulang.
Sejak berumur tujuh tahun, anak lelaki di Nias sudah belajar untuk melompati batu. Untuk tahap awal, mereka harus melompati tali yang takarannya terus meninggi seiring bertambahnya usia. Jika usianya sudah mencukupi, mereka akan melompati tumpukan batu berbentuk seperti prisma terpotong setinggi 2 meter.
Tradisi lompat batu di Pulau Nias juga dikenal sebagai hombo batu atau fahombo. Tradisi ini sudah berlangsung selama berabad-abad lamanya. Tradisi ini semakin lestari bersama budaya megalit di pulau seluas 5.625 km² yang dikelilingi Samudera Hindia dan berpenduduk 700.000 jiwa itu.
Tradisi lompat batu di Pulau Nias, Sumatera Utara atau disebut sebagai hombo batu atau fahombo telah berlangsung selama berabad-abad. Tradisi ini lestari bersama budaya megalit di pulau seluas 5.625 km² yang dikelilingi Samudera Hindia dan berpenduduk 700.000 jiwa itu.
Tradisi fahombo diwariskan turun-termurun di setiap keluarga dari ayah kepada anak lelakinya. Akan tetapi, tidak semua pemuda Nias sanggup melakukannya meskipun sudah berlatih sedari kecil. Masyarakat Nias percaya bahwa selain latihan, ada unsur magis dari roh leluhur dimana seseorang dapat berhasil melompati batu dengan sempurna.
Lompat batu di Pulau Nias awalnya merupakan tradisi yang lahir dari kebiasaan berperang antardesa suku-suku di Pulau Nias. Masyarakat Nias memiliki karakter keras dan kuat diwarisi dari budaya pejuang perang. Dahulu suku-suku di pulau ini sering berperang karena terprovokasi oleh rasa dendam, perbatasan tanah, atau masalah perbudakan. Masing-masing desa kemudian membentengi wilayahnya dengan batu atau bambu setinggi 2 meter. Oleh karena itu, tradisi lompat batu pun lahir dan dilakukan sebagai sebuah persiapan sebelum berperang.
Saat itu, desa-desa di Pulau Nias yang dipimpin para bangsawan dari strata balugu akan menentukan pantas tidaknya seorang pria Nias menjadi prajurit untuk berperang. Selain memilki fisik yang kuat, menguasai bela diri dan ilmu-ilmu hitam, mereka juga harus dapat melompati sebuah batu bersusun setinggi 2 meter tanpa menyentuh permukaannya sedikitpun sebagai tes akhir.
Kini tradisi lompat batu bukan untuk persiapan perang antarsuku atau antardesa tetapi sebagai ritual dan simbol budaya orang Nias. Pemuda Nias yang berhasil melakukan tradisi ini akan dianggap dewasa dan matang secara fisik sehingga dapat menikah. Kadang orang yang berhasil melakukan tradisi ini juga akan dianggap menjadi pembela desanya jika terjadi konflik.
Atraksi hombo batu tidak hanya memberikan kebanggaan bagi seorang pemuda Nias tetapi juga untuk keluarga mereka. Keluarga yang anaknya telah berhasil dalam hombo batu maka akan mengadakan pesta dengan menyembelih beberapa ekor ternak.
Anda dapat menikmati atraksi mengagumkan ini di beberapa tempat di Pulau Nias, seperti di Desa Bawo Mataluo (Bukit Matahari) atau di Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan. Saat menyambangi Pulau Nias jangan lewatkan juga untuk mengamati kemegahan warisan budayanya berupa arca peninggalan megalit, rumah tradisional, dan tentunya berselancar (surfing) atau menyelam (diving).
Nah Sobat, bertambah lagi pengetahuan tentang khasanah Negeri ini bukan? Jangan lupa berbagi pengetahuan bersama Sobat-sobat kamu yang lain ya. Semoga Artikel ini bermanfaat.

http://www.indonesia.travel/id/destination/730/pulau-nias/article/137/tradisi-lompat-batu-di-pulau-nias
Ultimatum 10 November 1945 hari pahlawan

Ultimatum 10 November 1945 hari pahlawan

Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.
Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal maupun terluka.
Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.
Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) shingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.

Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. [2]. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 - 2000 tentara. [3] Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.
Sejarah Asal Usul Permainan Catur

Sejarah Asal Usul Permainan Catur

Soal negara asal catur, masih ada silang pendapat. Menurut H. J. R. Murray, penulis buku History of Chess (1913), catur berasal dari India dan mulai ada pada abad ke-6. Di sana catur dikenal dengan nama chaturanga, yang artinya empat unsur yang terpisah. Awalnya, buah catur memang hanya empat jenis. Menurut mistisisme India kuno, catur dianggap mewakili alam semesta ini, sehingga sering dihubungkan dengan empat unsur kehidupan, yaitu api, udara, tanah dan air karena dalam permainannya, catur menyimbolkan cara-cara hidup manusia.
Dalam permainannya, catur mengandalkan analisa dan ketajaman otak pemain, disertai keterampilan strategi dalam menentukan langkah, rencana, risiko, dan menentukan kapan harus berkorban agar menang.
Namun, pendapat Murray itu dibantah Muhammad Ismail Sloan, yang banyak mempelajari sejarah catur. Menurut Sloan, jika catur ditemukan di India, seharusnya permainan itu disebut-sebut dalam literatur-literatur Sanskrit. Kenyataannya, tak ada satu pun literatur Sanskrit di India yang menyebutkan soal permainan catur sebelum abad ke-6. Sebaliknya, para pujangga Cina sudah menyebutkan permainan ini salam syair-syair mereka, 800 tahun sebelumnya.
Jadi, menurut Ismail Sloan, di Cinalah catur pertama kali dimainkan. Tapi pada waktu itu bentuk arena caturnya tidak kotak-kotak, melainkan bulat-bulat. Buah caturnya juga hanya terdiri atas empat jenis, yaitu raja, benteng, ksatria (kuda), dan uskup (gajah).
Baru pada abad ke-6, catur dibawa orang Islam dari India dan Persia ke seluruh penjuru dunia. Konon, di zaman kekhalifahan Ali bin Abu Tholib, catur merupakan permainan yang populer dimainkan. Bahkan mungkin juga oleh Khalifah Ali sendiri. Ada pula yang menyebutkan bahwa panglima perang Nabi Muhammad, Khalid bin Walid juga menggemari catur. Barangkali ini ada hubungannya dengan kelihayannya mengatur strategi perang.
Juga ada seorang sahabat Nabi yaitu Said bin Jubair yang terkenal bisa bermain blindfold (catur buta, bermain tanpa melihat papan catur). Di zaman kekhalifahan Islam berikutnya, seperti Khalifah Harun Al-Rasyid pun diketahui pernah menghadiahkan sebuah papan catur kepada seorang raja di Eropa, pendiri dinasti Carolia, yaitu Charlemagne.
Pada abad ke-8 ketika bangsa Moor menyebarkan Islam ke Spanyol, catur mulai menyebar ke daratan Eropa hingga sampai di jerman, Italia, Belanda, Inggris, Irlandia, dan Rusia. Di Nusantara, olahraga otak ini dibawa oleh bangsa Belanda pada waktu penjajahan dulu. Awalnya, hanya orang Belanda yang bermain catur, tapi menjelang kemerdekaan, mulailah banyak pribumi yang memainkannya.
Dalam sejarah catur bangsa Eropa telah banyak mengembangkan permainan catur ini, antara lain dengan membuat papan caturnya berwarna hitam dan putih. Ini terjadi kira-kira abad-10. Sebelumnya, kotak-kotak itu berwarna sama. Malah sering orang membuat arena permainan catur ini di atas pasir atau di mana saja yang bisa diberi garis. Dari Eropa ini juga dibuat peraturan bahwa pion boleh maju dua kotak pada langkah pertama dan menteri (ratu) boleh bergerak lebih leluasa baik maju ke depan maupun diagonal.

Perlahan catur mengalami perkembangan. Dari nama, bentuk, serta peraturan permainannya. Kesemuanya itu mewakili simbol perubahan peradaban.
Kumpulan Sejarah- Sejarah Awal Mula Adanya tas Di Dunia

Kumpulan Sejarah- Sejarah Awal Mula Adanya tas Di Dunia

Tas sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan mode dan fashion (pakaian). Kebanyakan orang yang gemar berpakaian sesuai mode, selalu menyertakan tas dalam penampilannya. Sebenarnya, berbagai jenis/model tas yang kita kenal saat ini berasal dari tas tangan (handbag) yang sering dipakai oleh orang-orang pada waktu dulu. Namun tas baru terkenal kira-kira setelah Perang Dunia Kedua, dimana saat itu terdapat banyak iklan di majalah-majalah untuk memperkenalkan tas dengan berbagai model dan gaya. Dengan adanya iklan-iklan tersebut, tas menjadi populer dan banyak orang yang menggemarinya.

Sejarah Awal Mula Adanya tas Di Dunia
Pada saat itu, tas yang dibuat masih berasal dari bahan yang sederhana seperti vinyl, kain, dan bahan kulit sintetis. Untuk menjaga kekurangan bahan kulit, maka lebih dari 60% bahan yang digunakan adalah imitasi atau tiruan. Jika bahan asli kulit tidak tersedia lagi, kulit imitasi bisa menjadi alternatif lain. Selain bahan-bahan tas tersebut, kertas tebal juga telah digunakan dalam pembuatan tas. Hal ini bisa dilihat dari kehidupan orang Cina pada zaman Dinasti Tang, yang biasa menggunakan tas dari kertas (paperbag) untuk menyimpan teh maupun membawa dan menyimpan barang lainnya.
Selain tas kertas yang digunakan oleh bangsa Cina pada zaman dulu, tas pertama kali dikenal oleh masyarakat dunia sebagai pembungkus roti. Lalu tas yang terbuat dari bahan plastik mulai beredar dipasaran lebih dari 25 sampai 35 persen. Seiring dengan berkembangnya zaman, plastik dikenalkan ke supermarket sebagai alternatif pengganti kantong kertas.

Sejarah Awal Mula Adanya tas Di Dunia
Sejak zaman dulu, tas sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan mode dan fashion (pakaian). Kebanyakan orang yang gemar berpakaian sesuai mode, selalu menyertakan tas dalam penampilannya. Sebenarnya, berbagai jenis/model tas yang kita kenal saat ini berasal dari tas tangan (handbag) yang sering dipakai oleh orang-orang pada waktu dulu.
Salah satu benda fashion yang tidak pernah bisa jauh dari wanita adalah tas. Benda yang satu ini tidak luput dari serbuan para kaum wanita, dan kalau sudah begini, sepertinya harga tidak menjadi satu masalah yang berarti lagi. Terbukti dengan koleksi tas dari merk-merk terkenal dengan harga-harga selangit, tetap saja laris manis diserbu para penggemarnya. Dan yang lebih menariknya lagi, tas juga bisa menjadi simbol status sosial seseorang. Baik pria maupun wanita.
Tapi, apakah Anda pernah berpikir tentang asal usul dari sebuah tas tangan atau yang lebih dikenal dengan istilah asingnya yaitu handbag? Handbag telah menjadi benda penting dalam kehidupan sehari-hari, ini dimulai sejak orang telah memilik benda-benda berharga yang harus selalu dibawa kemanapun. Penjelasan pertama kali tentang hal ini ada pada abad ke-14, walaupun dalam tulisan Mesir kuno disebutkan bahwa orang-orang Mesir zaman itu telah memakai tas pinggang kemanapun mereka pergi. Tas pinggang juga digunakan sebagai sabuk yang dipakai sangat kencang di pinggang mereka. Sulaman dan perhiasan yang terdapat di sebuah tas, akan menunjukkan status sosial dari si pemakai, karena menunjukkan semakin sulitnya proses pembuatan tas tersebut.
Di abad ke-16, handbag diciptakan lebih praktis untuk penggunaan sehari-hari. Materialnya dibuat dari bahan kulit dengan kancing pengikat di atasnya. Selama masa ini, traveling bag dibuat dengan bentuk yang lebih besar dan digunakan oleh para travelers dengan cara membawanya dalam posisi menyilang di badan. Sedangkan di abad ke-17 perkembangannya sudah lebih bervariasi, hingga pria maupun wanita yang fashionable akan membawa tas kecil dengan model yang semakin beragam di setiap kesempatan. Para wanita muda mulai membuat sulaman-sulaman, yang juga sangat dibutuhkan ketika mereka menikah, hingga semakin banyak hasil kerajinan tangan yang sangat cantik dan unik yang diaplikasikan pada tas.
Tren busana neo-classical menjadi sangat populer pada abad ke-18, dengan model-model pakaian yang lebih terbuka untuk para wanita. Sehingga, penggunaan tas kecil atau istilah asingnya purse akan merusak tema dari busana neo classical ini. Oleh karena itu, para wanita yang sadar gaya mulai untuk membawa tas tangan mereka. Wanita memiliki jenis tas yang berbeda-beda untuk setiap aktivitas, dan hal ini diperkuat dengan penjelasan-penjelasan dari majalah wanita yang menjelaskan tentang hal ini. Tapi, dari semua jenis tas yang dimiliki oleh wanita, ada satu kesamaannya, di dalamnya biasa ditemukan benda-benda seperti lipstick, bedak, kipas tangan, parfum, dompet, dll.
Penggunaan “handbag” pertama kali hadir di awal tahun 1900-an, dan awalnya istilah ini digunakan untuk travelling bag yang dibawa dengan cara dijinjing dan biasanya dibawa oleh pria. Ini adalah inspirasi untuk tas yang akhirnya sangat populer di kalangan wanita, lengkap dengan kancingnya yang sedikit rumit, dan juga kunci. Tahun 1920-an menunjukkan sebuah revolusi dalam dunia fashion, dimana tas tidak lagi harus selalu sesuai dengan busana yang dipakai.

Sementara, tahun 1940-an menunjukkan sebuah kesederhanaan dalam berbusana, termasuk urusan handbag. Tahun 50-an designer menunjukkan sebuah peningkatan yang sangat penting, termasuk Chanel, Louis Vuitton dan juga Hermes. Dan tahun 60-an menunjukkan perubahan dari gaya klasik menuju ke gaya yang lebih anak muda.
Sejarah Awal Kendaraan Mobil Ferrari

Sejarah Awal Kendaraan Mobil Ferrari

 FERRARI S.p.A., adalah sebuah pabrikan/produsen mobil sport yang bermarkas di Maranello, Italia. Didirikan oleh Enzo Ferrari pada 1928 dengan nama Scuderia Ferrari. Perusahaan ini awalnya hanya berkonsentrasi untuk mengontrak pembalap dan memproduksi mobil balapan. Akan tetapi, sejak tahun 1947 mulai memproduksi mobil jalanan mewah untuk konsumsi umum. Sepanjang sejarahnya, Ferrari terkenal mengikuti beberapa kontes balapan, terutama Formula Satu, ajang di mana mereka telah meraih kesuksesan besar.
Setelah melalui tahun-tahun perjuangannya, Enzo Ferrari menjual divisi mobil sport Ferrari ke grup Fiat pada 1969 untuk kelangsungan perusahaannya. Namun, Enzo Ferrari tetap mengontrol divisi balapnya sampai ia meninggal pada tahun 1988 di usia 90. Sebelum meninggal ia masih sempat meluncurkan mobil Ferrari F40, yang dikenal sebagai salah satu mobil terbaik yang diproduksi Ferrari.
Perusahaan Ferrari juga mengelola divisi merchandising yang mengizinkan merek dagangnya ditempelkan di sejumlah produk seperti kacamata sunblock, pena, peralatan elektronik, parfum, busana, sepeda canggih, arloji, ponsel sampai komputer jinjing.
Pada tahun 2007, suratkabar Financial Times menempatkan Ferrari di puncak teratas daftar 100 perusahaan terbaik Eropa.

Referensi:
http://pandri-16.blogspot.com/2012/04/sejarah-awal-kendaraan-mobil-ferrari.html